Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Drainase Jalan Raya

DRAINASE_JALAN_001

DRAINASE JALAN


1.    Fungsi Drainase Jalan
Sistem drainase permukaan pada konstruksi jalan raya pada umumnya berfungsi sebagai berikut:
-      Mengalirkan air hujan/air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan selanjutnya dialirkan lewat saluran samping; menuju saluran pembuang akhir.
-     Mencegah aliran air yang berasal dari daerah pengaliran disekitar jalan masuk ke daerah perkerasan jalan.
-      Mencegah kerusakan lingkungan di sekitar jalan akibat aliran air.

2.    Drainase Jalan
Sistem drainase permukaan pada prinsipnya terdiri dari :
-       Kemiringan melintang pada perkerasan jalan dan bahu jalan.
-       Selokan samping.
-       Gorong-gorong.
-       Saluran penangkap (Catch-drain)

3.    Perencanaan Drainase Jalan
Prinsip-prinsip Umum Perencanaan Drainase :
a.    Daya Guna dan Hasil Guna (Efektif dan Efisien)
Perencanaan drainase haruslah sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna dan berhasil guna.

b.    Ekonomis dan Aman.
Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase haruslah mempertimbangkan faktor
ekonomis dan faktor keamanan.

c.    Pemeliharaan.
Perencanaan drainase haruslah mempertimbangkan pula segi kemudahan dan nilai ekonomis dari pemeliharaan sistem drainase tersebut.

4.    Kemiringan Melintang Perkerasan dan Bahu Jalan
a.    Pada Daerah Jalan Yang Datar dan Lurus.
Penanganan pengendalian air untuk daerah ini biasanya dengan membuat kemiringan perkerasan dan bahu jalan mulai dari tengah perkerasan menurun/ melandai kearah selokan samping.

Besarnya kemiringan balm jalan biasanya diambil 2% lebih besar daripada kemiringan permukaan jalan. Besarnya kemiringan melintang normal pada perkerasan jalan dapat dilihat ceperti tercantum pada Tabel (1) dibawah ini.

Tabel (1)
Kemiringan melintang normal perkerasan jalan
No
Jenis lapis permukaan jalan
Kemiringan melintang normal-i
(%)
1
2
3
4
Beraspal, Beton
Japat
Kerikil
Tanah
2% - 3%
4% - 6%
3% - 6%
4% - 6%

b.    Daerah Jalan Yang Lurus Pada Tanjakan/Penurunan.
Penanganan pengendalian air pada daerah ini perlu mempertimbangkan pula besarnya kemiringan alinyemen vertikal jalan yangberupa tanjakan dan turunan; agar supaya aliran air secepatnya bisa mengalir ke selokan samping. Untuk itu maka kemiringan melintang perkerasan jalan disarankan agar menggunakan nilai-nilai maksimum dari Tabel I di atas.

c.    Pada Daerah Tikungan.
Kemiringan melintang perkerasan jalan pada daerah ini biasanya harus mempertimbangkan pula kebutuhan kemiringan jalan menurut persyaratan alinyemen horizontal jalan (lihat buku Geometrik); karena itu kemiringan perkerasan, jalan harus dimulai dari sisi luar tikungan menurun/melandai ke sisi dalam tikungan.

Besarnya kemiringan pada daerah ini ditentukan oleh nilai maksimum dari kebutuhan kemiringan alinyemen horizontal atau kebutuhan kemiringan menurut keperluan drainase.

5.    Selokan Samping.
Selokan, samping adalah selokan yang dibuat disisi kiri dan kanan badan jalan.
Fungsi Selokan Samping :
a.    Menampung dan membuang air yang berasal dari permukaan jalan.
b.    Menampung dan membuang air yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan.
c.    Dalam hal daerah pengaliran luas sekali atau terdapat air limbah maka untuk itu harus dibuat sistem drainase terpisah/tersendiri.

Bahan Rangunan Selokan Samping
Pemilihan jenis materal untuk selokan samping umumnya ditentukan oleh besarnya kecepatan rencana aliran air yang akan melewati selokan samping sedemikian sehingga material dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini:

Tabel 2
Kecepatan aliran air yang diizinkan berdasarkan jenis material
Jenis bahan
Kecepatan aliran air yang diizinkan
(m/detik)
Pasir halus
Lempung kepasiran
Lanau aluvial
Kerikil halus
Lempung kokoh
Lempung padat
Kerikil kasar
Batu-batu besar
Pasangan batu
Beton
Beton hertulang
0,45
0,50
0,60
0,75
0,75
1,10
1,20
1,50
1,50
1,50
1,50

Kecepatan aliran air ditentukan oleh sifat hidrolis penampang saluran, salah satunya adalah kemiringan saluran. Pada Tabel 3 dapat dilihat hubungan antara kemiringan selokan samping dan tipe material yang digunakan.


Tabel 3
Hubungan kemiringan selokan samping (i) dan jenis material

Jenis Material
Kemiringan Selokan Samping
i (%)
Tanah Asli
Pasir halus
Napal kepasiran
Lanau aluvial
Kerikil halus
Lampung padat/kokoh
Kerikil kasar
Batu-batu besar
Pasangan:
Pasangan batu
Beton
Beton bertulang


0 – 5

5 – 10



10

Penampang Melintang Selokan Samping
Pemilihan tipe penampang melintang selokan samping didasarkan atas :
a. Kondisi tanah dasar
b. Kedudukan muka air tanah
c. Kecepatan aliran air.

Perhitungan Dimensi Selokan Samping,
Dalam garis besar, perencanaan selokan samping mencakup 3 (tiga) tahap proses sebagai berikut :
a. Analisis hidrologi
b. Perhitungan hidrolika
c. Gambar Rencana

Hasil analisis hidrologi adalah
Besarnya debit air yang harus ditampung oleh selokan samping. Selanjutnya atas dasar debit yang kita peroleh maka dimensi selokan samping dapat kita rencanakan berdasarkan analisa/perhitungan hidrolika.
Analisis hidrologis dilakukan atas dasar data curah hujan, topografi daerah, karakteristik daerah pengaliran serta frekuensi banjir rencana.

Rumus untuk menghitung Debit (Q)
Rumus yang digunakan adalah Rational Formula sebagai berikut :
     
dimana:
Q = Debit (m3/met)
C = Koefisien pengaliran, seperti pada Tabel 4 dibawah ini.
I = Intensitas hujan (mm/jam) dihitung selama waktu konsentrasi (Tc) untuk periode banjir rencana.
A = Luas daerah pengaliran (km2).

Koefisien Pengaliran (C) :
Koefisien pengaliran adalah koefisien yang besarnya tergantung pada kondisi permukaan tanah, kemiringan medan, jenis tanah, lamanya hujan di daerah pengaliran.

Tabel 4 : Koefisien Pengaliran (c)
Kondisi Permukaan Tanah
Koefisien Pengaliran (c)
1.Jalan beton dan jalan aspal
2.Jalan kerikil & jalan tanah
3.Bahu jalan:
- Tanah berbutir halus
- Tanah berbutir kasar
- Batuan masif keras
- Batuan masif lunak
4.Daerah Perkotaan
5.Daerah pinggir kota
6.Daerah Industri
7.Permukiman padat
8.Permukiman tidak padat
9.Taman & kebun
10..Persawahan
11.Perbukitan
12.Pegunungan
0,70 - 0,95
0,40 - 0,70

0,40 - 0,65
0,10 - 0,20
0,70 - 0,85
0,60 - 0,75
0,70 - 0,95
0,60 - 0,70
0,60 - 0,90
0,60 - 0,80
0,40 - 0,60
0,20 - 0,40
0,45 - 0,60
0,70 - 0,80
0,75 - 0.90

Frekuensi Banjir Rencana :
Frekuensi banjir rencana ditetapkan berdasarkan pertimbangan kemungkinan kemungkinan kerusakan terhadap bangunan-bangunan di sekitar jalan akibat banjir. Dengan asumsi "tingkat kerusakan sedang" masih dianggap wajar, maka frekuensi banjir rencana untuk selokan samping dipilih 5 tahun.

Luas Daerah Pengaliran (A)
Batas-batas daerah pengaliran ditetapkan berdasarkan peta topografi, pada umumnya dalam skala 1 : 50.000 - 1 : 25.000. Jika luas daerah pengaliran relatip kecil diperlukan peta dalam skala yang lebih besar. Dalam praktek sehari-hari, sering terjadi, tidak tersedia peta topography ataupun peta pengukuran lainnya yang memadai sehingga menetapkan batas daerah pengaliran merupakan suatu pekejaan yang sulit.

Jika tidak memungkinkan memperoleh peta topography yang memadai, asumsi berikut dapat dipakai sebagai bahan pembanding.
DRAINASE-JALAN-002
DRAINASE JALAN 002

     L = Batas daerah pengaliran yang diperhitungkan

Rumus untuk menghitung dimensi
Rumus umum yang dipakai untuk menghitung dimensi adalah sebagai berikut :
 

Dimana :
F = Luas penampang basah (m2)
Q = Debit (m3/dt)
V = Kecepatan aliran (m/dt)
Kecepatan aliran (V) dapat dihitung dengan menggunakan Rumus Manning :




Dimana :
V = Kecepatan aliran
n = Koefisien kekasaran dinding menurut Manning
i = Kemiringan selokan samping
R = jari – jari hidraulis (m)

R=F/p
Dimana :
R = jari – jari hidraulis (m)
F = luas penampang basah (m2)
p = keliling penampang basah (m)

Harga koefisien kekasaran dinding (n) menurut Manning bisa dilihat dari table di bawah ini.

Tabel 5
Harga n untuk Rumus Manning

DRAINASE-JALAN-003
DRAINASE JALAN 003

DRAINASE-JALAN-004
DRAINASE JALAN 004

DRAINASE-JALAN-005
DRAINASE JALAN 005

2 comments for "Drainase Jalan Raya"